Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Khotbah Pemudah Remaja Integritas Seorang Murid.

 

Khotbah Pemudah Remaja Integritas Seorang Murid

Integritas Seorang Murid.

Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. (Matt. 5:37 ITB)

Integritas KBBI : Mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan, dan kejujuran. Integritas mengandung arti: kesatuan yang utuh antara hati, pikiran, perkataan dan perbuatan.

Secara etimologis, kata integritas (integrity), integrasi (integration) dan integral (integral) memiliki akar kata Latin yang sama, yaitu “integer” yang berarti “seluruh” (“whole or entire”) atau “suatu bilangan bulat” (“a whole number”), bilangan yang bukan bilangan pecahan (Skeat 1888, 297; Black 1825, 215-6). Jadi, sesuatu yang berintegritas merupakan sesuatu yang utuh dalam keseluruhannya, sesuatu yang tidak terbagi, dimana nuansa keutuhan atau kebulatannya tidak dapat dihilangkan. Meskipun sesuatu yang berintegritas terdiri dari banyak elemen, keutuhan atau kebulatannya selalu terjaga sebagai hasil dari hubungan timbal balik yang kuat diantara elemen-elemennya. Namun bersatunya elemen-elemen itu lebih merupakan suatu persatuan (incorporation) daripada suatu kesatuan (unity), karena identitas elemen tidak hilang. Identitas tiap elemen dari sesuatu yang berintegritas masih bisa dikenali, meskipun fungsinya sulit dipisahkan dari fungsi keseluruhan. Istilah sederhana “kompak” dan “kekompakan” barangkali tepat untuk menggambarkan bersatunya elemen-elemen sesuatu yang berintegritas sedemikian sehingga konotasi keutuhan atau kebulatannya (wholeness) tetap terjaga.

Stephen R. Covey mendefinisikan integritas sebagai hidup yang dilandasi pada prinsip (being integrated around principles). Integritas sendiri merupakan anak dari kerendahan hati (humility) dan keberanian (courage). Kerendahan hati berarti mengakui bahwa ada hukum alam atau prinsip yang mengendalikan alam semesta ini. Keberanian dibutuhkan ketika kita ingin hidup selaras dengan prinsip itu karena masih banyak norma sosial, moral, dan nilai-nilai di sekitar kita yang mengingkari prinsip tersebut. Dari integritas ini mengalir kebijaksanaan (wisdom) dan mentalitas berkelimpahan (abundance mentality).[1]

 

Apa Prinsip-prinsip Integritas Seorang Murid?

1.    Memiliki kemampuan yang dapat dipercaya

Pengawasan atas Yerusalem aku serahkan kepada Hanani, saudaraku, dan kepada Hananya, panglima benteng, karena dia seorang yang dapat dipercaya dan yang takut akan Allah lebih dari pada orang-orang lain. (Neh. 7:2 ITB)

Sejarah PL diakhiri dengan kitab Nehemia, ketika orang buangan Yahudi diizinkan kembali ke negeri mereka setelah pembuangan di Babel dan Persia. Bersama dengan kitab Ezra (dengannya kitab Nehemia membentuk satu kitab dalam PL Ibrani; Lihat “PENDAHULUAN EZRA”), kitab ini mencatat sejarah dari tiga rombongan yang kembali ke Yerusalem. Ezra meliput peristiwa-peristiwa yang berkenaan dengan dua rombongan pertama (538 SM; 457 SM), dan Nehemia mencatat aneka peristiwa selama kembalinya rombongan ketiga (444 SM). Sedangkan fokus kitab Ezra adalah pembangunan kembali Bait Suci, maka fokus kitab Nehemia adalah pembangunan kembali tembok Yerusalem. Kedua kitab menekankan pentingnya pemulihan rohani dan komitmen kepada Allah dan Firman-Nya.

Nehemia, yang hidup sezaman dengan Ezra, melayani sebagai juru minuman Artahsasta I (raja Persia) ketika ia menerima kabar bahwa orang buangan yang kembali ke Yehuda dari Babel dan Persia sedang dalam kesulitan dan tembok Yerusalem masih berupa puing. Setelah mendoakan keadaan Yerusalem, Nehemia diberi kuasa oleh Raja Artahsasta untuk pergi ke Yerusalem sebagai gubernur dan membangun kembali tembok-tembok kota. Selaku pemimpin yang diilhami, ia mengerahkan orang-orang sebangsanya untuk membangun kembali seluruh tembok kota dalam 52 hari saja sekalipun terjadi pertentangan yang gigih. Nehemia menjadi gubernur selama 12 tahun; setelah kembali beberapa waktu ke Persia, ia menjadi gubernur Yehuda untuk masa bakti kedua (bd. Neh 2:1; Neh 13:6-7).

Imam Ezra membantu Nehemia dalam memajukan kebangunan dan pembaharuan rohani di antara kaum sisa yang kembali; mungkin Nehemia membantu Ezra menulis kitab ini. Kesesuaian kitab Nehemia dengan sejarah diperkuat oleh aneka dokumen kuno yang ditemukan pada tahun 1903 dan disebut Elephantine Papyri, yang menyebut nama Sanbalat (Neh 2:19), Yohanan (Neh 12:23), dan penggantian Nehemia sebagai gubernur sekitar tahun 410 SM.

Prinsip Alkitab dalam memilih para pemimpin untuk pekerjaan Allah ialah menugaskan mereka yang bertekun dalam kesetiaan kepada Allah dan firman-Nya serta telah menunjukkan ketekunan saleh akan dosa dan akibatnya.

Dalam mempercayai seseorang tidak mudah apalagi diberikan tanggungga jawab besar, dan jika salah dalam melakukan tugas itu akibatnya fatal bahkan tugas tanggung jawab yang di berikan akan tidak jalan atau bisa bisa tidak di lanjutkan lagi. Orang yang dapat dipercaya harus ada kriteria di dalam orang tesebut, yaitu dapat melakukan tugas tangggung jawabnya, jujur, dapat dipercayai, dapat memegang rahasia dan terlebih-lebih takut akan hukum atau firman Allah.

Nehemia mengangkat Hanani sebagai pengawas Yerusalem karena ia adalah saudaranya. Bukan karena alasan koneksi ataupun nepotisme, sebab Nehemia telah membuktikan bahwa hidupnya, saudara- saudaranya, dan bawahannya bebas dari korupsi dan memperkaya diri sendiri. Alasan penunjukkan Hanani sebagai pengawas atas Yerusalem adalah ia mempunyai kredibilitas dan integritas, hingga kepadanya dipercayakan tugas yang berat dan besar. Untuk jabatan panglima benteng Nehemia mengangkat Hananya, seorang yang dapat dipercaya dan takut akan Tuhan. Ada kombinasi yang serasi dan indah dalam kualifikasi yang dimiliki Hananya. Ia tidak hanya mempunyai kredibilitas yang tinggi tetapi juga mempunyai kedewasaan rohani yang lebih matang dari yang lain.

Nehemia tidak berhenti sampai disitu. Ia memberikan perintah yang sangat jelas dan teliti untuk tugas mereka. Sepintas nampaknya Nehemia sangat berlebihan. Mengapa pintu gerbang harus tetap ditutup hingga matahari tinggi? Sekalipun pintu sudah ditutup dan dipalangi, orang-orang masih harus berjaga. Bahkan penjagaan pun dilakukan dari depan rumah para penjaga. Nehemia melakukan itu semua dengan pertimbangan situasi di luar Yerusalem masih sangat rawan. Musuh Israel masih terus berusaha keras menggagalkan segala usaha Nehemia. Nehemia mempunyai tekad untuk menjalankan misi yang dipercayakan kepadanya dengan sempurna dan hasil semaksimal mungkin.

Standar Nehemia pun menjadi tuntutan bagi kita saat ini. Karena itu dalam setiap tugas yang dipercayakan kepada kita hendaklah kita laksanakan dengan standar Nehemia, mulai dari pemilihan orang- orang yang akan menjadi tim hingga ketepatan dan ketelitian kerja.


2.    Memiliki ketulusan Hati

Ia menggembalakan mereka dengan ketulusan hatinya, dan menuntun mereka dengan kecakapan tangannya. (Mzm. 78:72 ITB)

Menurut KBBI, ikhlas adalah bersih hati atau tulus hati. Pengertian ini tentunya memiliki makna yang sangat dalam dan luas. Ikhlas adalah melakukan sesuatu tanpa mengharapkan sesuatu yang lain. Dalam hal ini melakukan sesuatu semata-mata hanya kita lakukan untuk Allah. Ikhlas adalah suatu sikap yang terlihat mudah diucapkan, namun banyak orang yang kesulitan menerapkannya dalam kehidupan. Hal ini berkaitan dengan perasaan manusia yang memiliki hati yang sulit untuk bersikap ikhlas. Namun, bagi orang yang hidup di dalam Tuhan, ikhlas tidak akan sulit diterapkan.

Dalam mengikut TUHAN dan melakukan tugas baik dalam bidang rohani maupun bidang pemerintahan, peradilan, politisi, profesional, usaha dan bidang pekerjaan lainnya yang bersifat sekuler sesungguhnya adalah pekerjaan TUHAN yang dipercayakan kepada kita.  Tugas itu adalah amanah dari TUHAN yang harus bertanggungjawab kepada TUHAN Sang Pemberi Amanah, bertanggungjawab kepada dan untuk kemaslahatan atau kemanfaatan manusia yang dipimpinnya dan dilayaninya.

Dalam ayat ini perlu kita bertanya mengapa Daud melakukan hal itu dengan penuh kesetiaan, tulus ikhlas.? Dan apa pelajarannya dalam kehidupan kita:

Karena hidup ini adalah anugerah TUHAN dan mendapatkan kepercayaan untuk menjadi mitra kerja bersama dengan-Nya dalam karya keselamatan dan kesejahteraan umat manusia. Oleh sebab itu berlakulah setia dan tulus hati dalam menjalan tugas dan tanggung jawab yang dipercayakannya itu dengan takut dan taat kepada TUHAN dan perintah-Nya.

Jangan bergaul dengan orang fasik, karena hal itu ditentang TUHAN yang akan mendatangakan keburukan. Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.( 1 Kor 15:33 ). Maka orang yang setia, tulus, lurus atau suci hati yang tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dan yang merenungkan firman -NYA siang dan malam, serta tidak bergaul dengan orang fasik atau orang jahat, maka TUHAN akan menyertainya dan akan melihat TUHAN, sehingga apa yang diperbuatnya akan berhasil dan beruntung.

 

RENUNGAN:

INTEGRITAS Kristen terlihat ketika perkataan sepadan dengan hati, tingkah laku selaras dengan perkataan.



[1] Stephen R. Covey, The 8th Habit From Effectiveness to Greatnes, (New York: Free Press, 2004), hlm 297.

Posting Komentar untuk "Khotbah Pemudah Remaja Integritas Seorang Murid."