Minta Keberanian untuk Terus Maju | Kisah Para Rasul 4:23-31
Kisah Para Rasul 4:23-31
Setelah Petrus dan Yohanes dilepaskan dari tahanan,
mereka kembali kepada jemaat dan menceritakan apa yang terjadi. Jemaat kemudian
berdoa bersama dengan satu hati memohon keberanian dari Tuhan. Mereka tidak
berdoa agar masalah hilang, tetapi agar diberi kekuatan menghadapi tantangan.
Setelah berdoa, tempat itu goyang dan mereka dipenuhi dengan Roh Kudus sehingga
semakin berani memberitakan firman Allah.
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Pernahkah Anda berada dalam situasi di mana Anda merasa
terancam, ditekan, atau diintimidasi karena iman Anda? Mungkin bukan ancaman
fisik seperti yang dialami para rasul, tetapi bisa berupa cemoohan di tempat
kerja, pengucilan di lingkungan pertemanan, atau bahkan pertentangan di dalam
keluarga sendiri. Apa reaksi pertama kita saat menghadapi tekanan seperti itu?
Wajarnya, kita berdoa agar Tuhan mengangkat masalah itu, menjauhkan kita dari
para pengancam, dan membuat jalan kita mulus kembali.
Namun, hari ini kita akan belajar dari jemaat mula-mula
sebuah respons yang luar biasa dan radikal terhadap ancaman.
Latar Belakang:
Pulang dari "Ruang Sidang”
Bayangkan suasana saat itu. Petrus dan Yohanes baru saja
dibebaskan setelah ditangkap dan diancam dengan keras oleh Mahkamah Agama, para
penguasa Yahudi yang sangat berkuasa. Mereka diperintahkan untuk tidak lagi
berbicara atau mengajar dalam nama Yesus. Ancaman ini bukanlah gertakan sambal;
ini adalah ancaman yang bisa berujung pada hukuman penjara, penganiayaan fisik,
atau bahkan kematian.
Apa yang mereka lakukan setelah bebas? Ayat 23
mengatakan, "...pergilah keduanya kepada teman-teman mereka, lalu mereka
menceritakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada
mereka."
Hal pertama yang mereka cari adalah ”Komunitas” Mereka
tidak menyendiri dalam ketakutan, tetapi segera kembali kepada saudara-saudari
seiman. Ini adalah pelajaran pertama bagi kita: di tengah tekanan, jangan
pernah sendirian. Carilah persekutuan orang percaya, tempat di mana kita bisa
saling menguatkan dan menopang.
I.
Doa yang Mengubah Perspektif
Setelah mendengar laporan Petrus dan Yohanes, apa reaksi jemaat? Apakah
mereka panik? Apakah mereka menyarankan untuk "tiarap" dulu,
bersembunyi sampai situasi aman? Tidak. Reaksi mereka spontan dan serentak:
mereka berdoa. Tetapi, perhatikan isi doa mereka. Doa ini sungguh luar biasa
dan menantang cara kita berdoa selama ini.
1. Mereka
Memulai dengan Mengagungkan Kedaulatan Tuhan (ayat 24-28)
Mereka tidak memulai dengan keluhan, "Tuhan, lihatlah betapa jahatnya
mereka kepada kami." Sebaliknya, mereka memulai dengan proklamasi iman
yang dahsyat: "Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut
dan segala isinya."
Mereka mengingatkan diri sendiri siapa Tuhan yang mereka sembah. Dia adalah
Pencipta yang berdaulat, jauh lebih besar dari Mahkamah Agama, Kaisar Romawi,
atau kekuatan apa pun di dunia ini. Mereka bahkan mengutip Mazmur 2, menyatakan
bahwa persekongkolan para penguasa dunia untuk melawan Kristus sesungguhnya
sudah ada dalam rencana dan kuasa Allah.
Ini adalah sebuah kunci penting: Sebelum membawa masalah kita kepada
Tuhan, bawa diri kita terlebih dahulu kepada kebesaran Tuhan. Saat kita sadar
betapa besar dan berdaulatnya Allah kita, masalah yang kita hadapi akan
terlihat jauh lebih kecil.
2. Mereka
Tidak Minta Ancaman Dihilangkan, Tapi Minta Keberanian (ayat 29-30)
Inilah bagian yang paling mengejutkan dari doa mereka. Setelah mengakui
kedaulatan Tuhan, mereka berkata, "Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah
bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian
untuk memberitakan firman-Mu."
Mereka tidak berdoa, "Tuhan, hentikanlah mereka. Bungkamlah mulut
mereka. Singkirkanlah ancaman ini." Tidak. Mereka pada dasarnya berkata,
"Tuhan, kami tahu ancaman itu nyata, tetapi jangan biarkan itu
menghentikan kami. Sebaliknya, berikan kami lebih banyak keberanian (dalam
bahasa Yunani: parrhesia, artinya keberanian untuk berbicara terus terang dan
tanpa rasa takut) untuk terus melakukan apa yang Engkau perintahkan."
Mereka meminta Tuhan mengubah mereka, bukan mengubah keadaan di sekitar
mereka. Mereka tidak meminta jalan yang mudah, tetapi mereka meminta kekuatan
untuk berjalan di jalan yang sulit. Betapa ini menantang doa-doa kita yang
seringkali hanya berpusat pada kenyamanan diri sendiri!
II. Jawaban Tuhan yang Mengguncangkan
Bagaimana Tuhan menjawab doa yang begitu berani dan penuh
iman ini?
Ayat 31 mencatat tiga hal luar biasa:
1. Tempat
itu Berguncang: Tuhan menunjukkan kehadiran dan kuasa-Nya secara fisik. Ini
adalah tanda bahwa doa mereka telah didengar dan Allah menyertai mereka.
2. Mereka
Semua Penuh dengan Roh Kudus: Ini adalah jawaban langsung atas permintaan
mereka akan keberanian. Sumber keberanian sejati bukanlah dari diri sendiri,
tetapi dari kepenuhan Roh Kudus. Tuhan tidak hanya memberikan keberanian
sebagai sebuah "paket", Ia memberikan Diri-Nya sendiri, Roh-Nya,
untuk tinggal dan berkarya di dalam mereka.
3. Mereka
Memberitakan Firman Allah dengan Berani: Doa mereka langsung dijawab dalam
tindakan nyata. Ketakutan digantikan oleh keberanian ilahi, dan mereka kembali
melakukan apa yang sebelumnya dilarang: memberitakan Injil.
Renungan untuk Kita Saat Ini
Kisah ini bukanlah sekadar catatan sejarah, tetapi sebuah
cermin dan panggilan bagi kita, gereja Tuhan di masa kini.
Evaluasi Respons Kita: Ketika
tantangan datang, ke mana kita berlari pertama kali? Apakah kepada komunitas
iman dan doa, atau kepada kepanikan dan usaha kita sendiri?
Evaluasi Doa Kita: Apa isi doa kita
saat tertekan? Apakah kita lebih sering meminta Tuhan untuk mengubah situasi
agar sesuai dengan keinginan kita, atau meminta Tuhan mengubah kita agar sesuai
dengan kehendak-Nya? Mari belajar berdoa seperti jemaat mula-mula: bukan meminta
hidup tanpa tantangan, tetapi meminta keberanian untuk menghadapi setiap
tantangan.
Andalkan Kuasa Roh Kudus: Keberanian
untuk bersaksi, untuk hidup benar di tengah dunia yang bengkok, tidak berasal
dari kekuatan kita. Itu adalah buah dari kepenuhan Roh Kudus. Mintalah setiap
hari agar Roh Kudus memenuhi dan memimpin hidup kita.
Kesimpulan:
Kisah Para Rasul 4:23-31 mengajarkan bahwa iman Kristen
sejati bukanlah hidup tanpa masalah, melainkan hidup dengan keberanian yang
lahir dari doa, kedaulatan Allah, dan kuasa Roh Kudus. Jemaat mula-mula
menunjukkan bahwa doa bersama dapat menggoncangkan dunia, karena doa yang
dinaikkan dalam iman akan menghasilkan kuasa dari Surga.
Posting Komentar untuk "Minta Keberanian untuk Terus Maju | Kisah Para Rasul 4:23-31"
Berkomentar yg membangun dan memberkati.